Harapan dan Keputusasaan Dalam Al-Qur’an



Hidup ini penuh dengan pasang surut.
Tanpa kecuali, setiap orang memiliki tantangan dan kesulitan masing-masing dalam hidup mereka.
Bermacam kesulitan ini kadang bisa terasa sangat luar biasa sampai pada titik di mana seseorang tidak mampu menemukan jalan keluar darinya dan mulai putus asa.
Artikel ini akan menyoroti beberapa ajaran Islam tentang berharap hanya kepada Allah.
Mereka yang kehilangan semua harapan dalam hidupnya terkadang akhirnya memutuskan untuk mengambil nyawa mereka sendiri.
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu. (Al-Qur'an 4:29).
Kata ‘raḥma’ (seringkali salah diterjemahkan sebagai ampunan) menyampaikan makna cinta dan kasih sayang.
Al-Qur'an mengajarkan bahwa seseorang seharusnya tidak pernah kehilangan harapan atau sampai berputus asa dari ‘rahma’ Allah.
Nabi Yusuf dikhianati oleh keluarganya sendiri, diculik, dijual menjadi budak, dituduh melakukan perzinaan, dan dipenjarakan.
Ayahnya, Nabi Yaqub penuh dengan kesedihan karenanya, tetapi beliau tidak pernah kehilangan harapan meskipun telah jelas fakta di hadapannya bahwa Nabi Yusuf telah hilang selama beberapa dekade.
Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (Al-Qur'an 12:87).
Pada akhirnya, Nabi Yusuf menjadi menteri di Mesir dan bersatu kembali dengan keluarganya.
Sampai saat ini semua orang di seluruh dunia membaca kisah Nabi Yusuf dengan penuh kekaguman dan terinspirasi.
Seandainya Nabi Yusuf mengetahui kalau akhirnya akan seperti ini, tentu akan membuat semua kesulitannya terasa jauh lebih mudah.
Namun hal ini tidak berarti bahwa Nabi Yakub dan Nabi Yusuf tidak merasakan kepedihan.
Bahkan, Nabi Yakub sangat sedih walaupun telah berlalu beberapa dekade dari hilangnya Nabi Yusuf hingga anak-anaknya mengira kalau dia akan binasa dalam kesedihan: Mereka berkata, “Demi Allah, engkau tidak henti-hentinya mengingat Yusuf, sehingga engkau (mengidap) penyakit berat atau engkau termasuk orang-orang yang akan binasa.” Dia (Yakub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. (Al-Quran 12: 85-86).
Tidak semua orang akan dikenang seperti Nabi Yusuf, tetapi pelajarannya adalah bahwa Allah pada akhirnya memiliki rencana untuk kita masing-masing.
Kita tidak mengerti kenapa hal-hal kita anggap buruk terjadi pada kita sekarang, tetapi harus di garis bawah kita mungkin nanti akan melihat ke belakang dan baru menyadari bahwa semua cobaan itu dibutuhkan untuk menjadikan kita seseorang yang lebih baik.
Bahkan jika seseorang tidak menemukan sedikitpun sisi positif dari cobaan yang telah dialaminya dalam kehidupan ini, mereka akan dapat melihatnya di akhirat nanti.
Diuji dan melewati berbagai cobaan adalah bagian penting yang harus dilalui sebelum kita memenuhi syarat untuk memasuki surga Allah.
Al-Qur'an memberi tahu Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya bagaimana Nabi dan Rasul yang hidup sebelum mereka diuji: Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. (Al-Qur'an 2: 214).
Perlu diingat bahwa ayat ini diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW ketika umat Islam saat itu mengalami kesulitan.
Ini dimaksudkan untuk mengingatkan kita bahwa kesulitan adalah bagian dari kehidupan, tetapi juga bahwa kemenangan dan pertolongan Allah selalu dekat.
Ada ayat yang sangat indah dalam Al-Qur'an yang menyatakan bahwa Allah akan membuat semuanya baik-baik saja di saat dan dari tempat yang seseorang tidak pernah sangka-sangka: Maka apabila mereka telah mendekati akhir idahnya, maka rujuklah (kembali kepada) mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah pengajaran itu diberikan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu. (Al Qur'an 65: 2-3).
Ayat ini ditemukan dalam surah At-Talaq (Perceraian) dalam Al-Qur'an.
Perceraian adalah peristiwa di mana seseorang akan merasa hidupnya berantakan.
Dalam konteks cobaan yang luar biasa inilah Allah mengingatkan kita bahwa jika kita tetap sadar akan Dirinya (Allah), tidak menzalimi hak orang lain, bahwa Dia akan membuatkan jalan keluar bagi kita dan menaungi kita dari tempat yang tidak disangka-sangka.
Al-Qur'an juga menekankan fakta bahwa kelegaan/kemudahan datang beserta dengan kesulitan.
Jadi, sesungguhnya, dengan setiap kesulitan, ada kelegaan: Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), (Al-Qur'an 94: 5-7).
Secara luar biasa, Al-Qur'an dapat mengubah psikologi seseorang sehingga mereka dapat melihat gambaran yang lebih besar tentang apa yang sedang mereka alami.
Seseorang harus percaya bahwa Allah pada akhirnya tahu yang terbaik buat kita dan memiliki rencana terbaik untuk setiap orang, baik itu dalam kehidupan ini atau di akhirat nanti.
Artikel ini disadur dari artikel berbahasa Inggris dari laman www.whyislam.org terbit pada 03 Oktober 2018 dengan judul “Hope and Despair in the Qur’ān”.

Comments